don't let go


widgets

Selasa, 03 Juni 2014

EYD

Sejarah singkat mengenai Ejaan bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia sudah lama memiliki ejaan tersendiri. Berdasarkan sejarah perkembangan ejaan, sudah mengalami perubahan sistem ejaan, yaitu :

1. Ejaan Van Ophuysen

Ejaan ini mulai berlaku sejak bahasa Indonesia lahir dalam awal tahun dua puluhan. Ejaan ini merupakan warisan dari bahasa Melayu yang menjadi dasar bahasa Indonesia.

2. Ejaan Soewandi

Setelah ejaan Van Ophuysen diberlakukan, maka muncul ejaan yang menggantikan, yaitu ejaan Soewandi. Ejaan ini berlaku mulai tahun 1947 sampai tahun 1972.

3. Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)

Ejaan imi mulai berlaku sejak tahun 1972 sampai sekarang. Ejaan ini merupakan penyempurnaan 
dari Ejaan lain yang pernah berlaku di Indonesia.
Pengertian Ejaan ialah keseluruhan system dan peraturan penulisan bunyi bahasa untuk mencapai keseragaman. Ejaan Yang Disempurnakan adalah ejaan yang dihasilkan dari penyempurnaan atas ejaan-ejaan sebelumnya.
Perbedaan masing – masing  Ejaan lainnya antara lain :
Ejaan Van Ophusyen “choesoes”
Ejaan Soewandi “chusus”
Ejaan Yang Disempurnakan “khusus”

Secara umum, hal-hal yang diatur dalam EYD adalah:
1.     Penulisan huruf, termasuk huruf kapital dan huruf miring.
2.     Penulisan kata.
3.     Pemakain tanda baca.
4.     Penulisan singkatan dan akronim.
5.     Penulisan angka dan lambang bilangan.
6.     Penulisan unsur serapan.





1.      Penulisan huruf, termasuk huruf kapital dan huruf miring.
Huruf Kapital atau Huruf Besar

Huruf Kapital dipakai sebagai huruf pertama pada awal kalimat, petikan langsung, ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan, nama gelar kehormatan, unsur nama jabatan, nama orang, nama bangsa, suku, tahun, bulan, nama geografi, dll.
Contoh :   
Ke mana Anda mau pergi.
Jalan Keramat Jati.

Huruf Miring
Huruf Miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, surat kabar, yang dikutip dalam tulisan, nama ilmiah atau ungkapan asing, dan untuk menegaskan huruf, bagian kata, atau kelompok kata.
2.      Penulisan kata.
a. Kata Dasar
Kata dasar adalah kata yang belum mengalami perubahan bentuk, yang ditulis sebagai suatu kesatuan.

b. Kata Turunan, Kata turunan (imbuhan)
Kaidah yang harus diikuti dalam penulisan kata turunan, yaitu :
#Imbuhan semuanya ditulis serangkai dengan kata dasarnya.
#Awalan dan akhrian ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya jika bentuk dasarnya berupa gabungan kata.

c. Bentuk Ulang
Kata ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda (-). Jenis-jenis kata ulang yaitu :
#Dwipurwa yaitu pengulangan suku kata awal.
#Dwilingga yaitu pengulangan utuh atau secara keseluruhan.
#Dwilingga salin suara yaitu pengulangan variasi fonem.
#Pengulangan berimbuhan yaitu pengulangan yang mendapat imbuhan.

d. Gabungan Kata
Gabungan kata yang dianggap senyawa ditulis serangkai
Misalnya : daripada, sekaligus, bagaimana, barangkali.

e. Kata Ganti ku, mu, kau dan nya.
Kata ini ditulis serangkai dengan kata yang  mengikutinya Sedangkan kata ganti ku, mu, nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya : kubaca, kaupinjam, bukuku, tasmu, sepatunya.



f. Kata Depan di, ke, dan dari, Kata depan di dan ke ditulis terpisah
Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya, kecuali pada gabungan kata yang dianggap padu sebagai satu kata, seperti kepada dan daripada.
Misalnya :
Jangan bermain di jalan.
Saya pergi ke kampung halaman.
Dewi baru pulang dari kampus.

g. Kata si dan sang (sandang).
Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Misalnya : Nama si pengrimi surat tidak jelas.
Anjing bermusuhan dengan sang kucing.

h. Partikel, Partikel per
Partikel per yang berarti memulai, dari, dan setiap.  yang berarti tiap-tiap ditulis terpisah.
Misalnya : Rapor siswa dilihat per semester.

3.      Pemakain tanda baca.
Pemakaian tanda baca terdiri dari tanda (.) , (,), (-), (;), (:), (”), (?), (!), (. . .), (/), (‘), (‘ ‘), (“ “).
Tanda Titik (.)
Penulisan tanda titik di pakai pada :
Akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan

Tanda koma (,)
#Memisahkan anak kalimat atau induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya.
#Digunakan dibelakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk kata : (1) Oleh karena itu, (2) Jadi, (3) lagi pula, (4) meskipun begitu, dan (5) akan tetapi.

Tanda Tanya ( ? )
Tanda tanya dipakai pada :
Akhir kalimat tanya.

Tanda Seru ( ! )
Tanda seru dugunakan sesudah ungkapan atau pertanyaan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kseungguhan, ketidakpercayaan, dan rasa emosi yang kuat.

Tanda Titik Koma ( ; )
Tanda titik koma dipakai :
Memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.

Tanda Titik Dua ( : )
Tanda titik dua dipakai :
Di dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan .
Di antara jilid atau nomor dan halaman.

Tanda Elipsis (…)
Tanda ini menggambarkan kalimat-kalimat yang terputus-putus dan menunjukkan bahwa dalam suatu petikan ada bagian yang dibuang.



Tanda Garis Miring ( / )
Tanda garis miring ( / ) di pakai :
Sebagai pengganti kata dan,atau, per, atau nomor alamat.

Tanda Penyingkat atau Apostrof ( ‘)
Tanda penyingkat menunjukkan penghilangan sebagian huruf.

Tanda Petik Tunggal ( ‘…’ )
Tanda petik tunggal dipakai :
Mengapit terjemahan atau penjelasan kata atau ungkapan asing.
                                           

Tanda Petik ( “…” )
Tanda petik dipakai :
Mengapit kata atau bagian kalimat yang mempunyai arti khusus, kiasan atau yang belum dikenal.
4.      Penulisan singkatan dan akronim.

Singkatan ialah bentuk istilah yang tulisannya diperpendek terdiri dari huruf awalnya saja, menanggalkan sebagian unsurnya atau lengkap menurut lisannya, Contoh : NKRI, cm,  lab.
    
Akronim adalah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, suku kata, ataupun gabungan kombinasi huruf dan suku kata. Contoh : rudal ( peluru kendali ), tilang ( bukti pelanggaran )
5.      Penulisan angka dan lambang bilangan.
Penulisan angka dan bilangan terdiri dari beberapa cara yaitu :
a.    berasal dari satuan dasar sistem internasional, Contoh : arus listrik dituliskan A = ampere
b.    menyatakan tanda decimal, Contoh : 3,05 atau 3.05

6.      Penulisan unsur serapan.
Penulisan unsur serapan pada umumnya mengadaptasi atau mengambil dari istilah bahasa asing yang sudah menjadi istilah dalam bahasa Indonesia. Contoh : president menjadi presiden.


Kesimpulan
Mengeja adalah kegiatan melafalkan huruf, suku kata, atau kata; sedangkan ejaan adalah suatu sistem aturan yang jauh lebih luasdari sekedar masalah pelafalan. Ejaan mengatur keseluruhan cara menuliskan bahasa.

Pengertian Ejaan ialah keseluruhan system dan peraturan penulisan bunyi bahasa untuk mencapai keseragaman. Ejaan Yang Disempurnakan adalah ejaan yang dihasilkan dari penyempurnaan atas ejaan-ejaan sebelumnya.


Ejaan yang disempurnakan adalah ejaan bahasa indonesia yang berlaku sejak tahun 1972. Ejaan ini menggantikan ejaan sebelumnya, Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi. Ejaan adalah seperangkat aturan tentang cara menuliskan bahasa dengan menggunakan huruf, kata, dan tanda baca sebagai sarananya. Batasan tersebut menunjukan pengertian kata ejaan berbeda dengan kata mengeja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar